Kamis, 12 April 2012

makalah evaluasi pendidikan ( PENGERTIAN DAN PENYUSUNAN TES SERTA TABEL SPESIFIKASI )


BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang Masalah
Evaluasi adalah suatu proses menentukan sesuatu yang dilakukan melalui tahapan pengukuran dan penilaian. Dalam melakukan evaluasi diperlukan sebuah alat evaluasi. Alat sendiri dibagi menjadi dua, yaitu tes dan non tes.
Di dalam melakukan evaluasi, khususnya dengan cara tes, membutuhkan suatu penyusunan alat tes guna mendapatkan hasil yang ingin dicapai, yang mana dalam penyusunan alat tersebut memiliki beberapa aturan tertentu.
Dari permasalahan tersebut kiranya perlu untuk dibahas tentang bagaimana cara penyusunan tes dan tabel spesifikasi yang meliputi masalah tes, fungsi tes, dan tabel spesifikasi dalam evaluasi pendidikan.
  1. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah di atas dapat ditarik rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Apa arti dari tes ?
  2. Apa persyaratan tes ?
  3. Bagaimana ciri-ciri tes yang baik ?
  4. Apa fungsi tes ?
  5. Bagaimana langkah penyusunan tes ?
  6. Ada berapa komponen tes ?
  7. Apa fungsi tabel spesifikasi ?
  8. Bagaimana langkah pembuatan tabel spesifikasi ?
  9. Bagaimana tindak lanjut sesudah pembuatan tabel spesifikasi ?
  1. Tujuan Pembahasan
Dalam penyusunan makalah ini ada beberapa tujuan yang ingin dicapai, diantaranya :
  1. Untuk mengetahui arti tes.
  2. Untuk mengetahui persayaratan tes.
  3. Untuk mendiskripsikan ciri-ciri tes yang baik.
  4. Untuk mengetahui fungsi tes.
  5. Untuk mendiskripsikan langkahpenyusunan tes.
  6. Untuk mendiskripsikan komponen tes.
  7. Untuk mengetahui fungsi tabel spesifikasi.
  8. Untuk mendiskripsikan langkah pembuatan tabel spesifikasi.
  9. Untuk mendiskripsikan tindak lanut sesudah pembuatan tabel spesifikasi.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN DAN PENYUSUNAN TES SERTA TABEL SPESIFIKASI
  1. MASALAH TES
  1. Pengertian Tes
Beberapa istilah yang berhubungan dengan tes.
  1. Tes
Adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
  1. Testing
Adalah saat waktu tes itu dilakukan.
  1. Testee
Adalah responden yang sedang mengerjakan tes.
  1. Tester
Adalah orang yang diserahi untuk melaksanakan pengambilan tes terhadap para responden.
Tugas tester antara lain ;
  • Mempersiapkan ruangan dan perlengkapan yang diperlukan.
  • Membagikan lembaran tes dan alat-alat lain untuk mengerjakan.
  • Menerangkan cara mengerjakan tes.
  • Mengawasi responden mengerjakan tes.
  • Memberikan tanda-tanda waktu.
  • Mengumpulkan pekerjaan responden.
  • Mengisi berita acara atau laporan yang diperlukan ( jika ada ).
  1. Persyaratan Tes
Sumber persyaratan tes, didasarkan atas dua hal :
  1. Menyangkut Mutu Tes.
Contoh :
Seorang guru yang belum berpengalaman menyusun tes, mengadakan tes bahasa Indonesia kepad siswa diberikan sebuah cerita panjang dan beberapa pertanyaan yang dimaksudkan untuk mengukur kemampuan siswa menangkap isi bacaan tersebut, tetapi hanya meliputi bagian awal dari bacaan saja. Disamping itu, siswa diminta mengambil beberapa kata sukar dari bacaan itu dan menerangkan artinya. Pada waktu tes berlangsung guru menungguinya dengan teliti dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk saling kerjasama. Tes berjalan tertib.
Dari contoh di atas, tes yang dibuat guru tersebut kurang baik, karena pertanyaannya disusun dengan kurang cermat, para siswa dibebaskan memilih sendiri kata-kata yang sukar dan menerangkannya. Dengan demikian akan terdapat banyak sekali variasi jawaban. Sehingga guru akan menjumpai kesulitan pada waktu menilai. Guru tidak dapat memperoleh gambaran tentang tingkat kemampuan siswanya. Nilai yang diperoleh tidak dapat dimanfaatkan untuk mendiagnosis maupun untuk mengisi rapor.
  1. Menyangkut pengadministrasian dalam pelaksanaan.
Contoh :
Seorang guru yang sudah berpengalaman, menyusun sebuah tes dengan baik. Kenetulan guru itu juga mengajar bahasa Indonesia. Seperti halnya guru pertama, ia memberikan sebuah bacaan dan diikuti pertanyaan-petanyaan tentang isi bacaan. Setelah itu diikuti oleh deretan kata-kata sukar yang harus diterangkan oleh siswa pada waktu pelaksanaan tes, guru ini mendadak sakit dan pengawasan terhadap pelaksanaan tes diserahkan kepada kawannya, seorang guru muda yang baik hati. Dibiarkannya saja anak-anak yang bercakap-cakap merundingkan jawaban pertanyaan itu, atau anak-anak yang dengan sengaja mengeluarkan buku catatan dan melihatlihat isinya.
Dari contoh di atas, tes yang disusun sudah baik. Dengan pengarahan dari guru, yakni memberikan kata-kata sukar yang harus diterangkan oleh siswa, guru dapat memperoleh informasi siswa mana yang sudah menguasai bahan dan siswa mana yang belum. Akan tetapi kesalahannya terletak pada administrasi/pelaksanaan tes. Oleh karena situasinya memberikan peluang kepada siswa untuk saling menyeragamkan jawaban, maka guru tidak dapat memperoleh gambaran siapa sebenarnya siswa yang sudah menguasi bahan pelajaran sehingga dapat menjadi sumber informasi dan menjual jasa kepada kawan-kawannya.
Walaupun dalam melaksanakan tes sudah diusahakan mengikuti aturan tentang suasana. Cara dan prosedur yang telah ditentukan, namun tes itu sendiri mengandung kelemahan-kelemahan.
Menurut Gilbert Sax ada beberapa kelemahan tes, yaitu ;
  • Adakalanya tes ( secara psikologis, terpaksa ) menyinggung pribadi seseorang ( walaupun tidak disengaja demikian ).
  • Tes menimbulkan kecemasan sehingga mempengaruhi hasil belajar yang murni.
  • Tes mengkategorikan siswa secar tetap.
  • Tes tidak mendukung kecemerlangan dan daya kreasi siswa.
  • Tes hanya mengukur aspek tingkah laku yang sangat terbatas.
  1. Ciri-ciri tes yang baik
Sebuah tes yang dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
  1. Validitas
Sebelum mulai dengan penjelasan perlu kiranya dipahami terlebih dahulu perbedaan arti istilah “ Validitas” dengan “Valid”. Validitas merupakan sebuah kata benda, sedangkan Valid merupakan kata sifat.
Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai dengan keadaan senyatanya atau sebenarnya. Contohnya, informasi tentang seorang bernama A menyebutkan bahwa si A pendek, karena tingginya kurang dari 140 cm. Data tentang A ini dikatakan valid apabila memang sesuaidengan kenyataanya, yakni bahwa tinggi si A kurang dari 140 cm.
Jika data yang dihasilkan dari sebuah instrumen valid, maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut valid, karena dapat memberikan gambaran tentang data secara benar sesuai dengan kenyataan atau sesungguhnya.
Dari sedikit uraian dan contoh tersebut dapat disimpulkan bahwa jika data yang dihasilkan oleh instrumen benar dan valid, sesuai kenyataan, maka instrumen yang digunakan tersebut juga valid.
  1. Reliabilitas
Kata reliabilitas dalam bahasa indonesia diambil dari kata “ reliability” dalam bahasa inggris, yang berasal dari kata “reliable” yang artinya dapat dipercaya. Reliabilitas merupakan kata benda, sedangkan reliabel merupakan kata sifat atau kata keadaan.
Tes dikatakan reliabel jika memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali. Dengan kata lain, jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka setiap siswa akan tetap berada dalam urutan ( rangking ) yang sama dalam kelompoknya.
Contoh :
TABEL NILAI TES PERTAMA DAN TES KEDUA
Waktu tes
Nama siswa
Pengetesan pertama
Pengetesan kedua
Amin
6
7
Badu
6,5
6,6
Cahyani
8
9
Didit
5
6
Elvi
6
7
Parida
7
8


Dari tabel di atas dapat dilihat, walaupun tampaknya tes pada pengetesan kedua lebih baik, akan tetapi kenaikannya dialami oleh semua siswa, maka tes yang digunakan dapat dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi. Kenaikan tes yang kedua barangkali disebabkan oleh adanya “pengalaman” yang diperoleh pada waktu mengerjakan tes pertama. Dalam keadaan seperti ini dikatakan bahwa carry-over effect atau practice-effect, yaitu adanya akibat yang dibawa karena siswa telah mengalami suatu kegiatan.
Jika dihubungkan dengan validitas, maka :
  • Validitas adalah ketepatan.
  • Reliabilitas adalah ketetapan.
  1. Objektivitas
Dalam pengertian sehari-hari telah dengan cepat diketahui bahwa objektif berarti tidak adanya unsur pribadi yang mempengaruhinya. Lawan dari objektif adalah subjektif. Yang artinya terdapat unsur pribadi yang mempengaruhinya.
Sebuah tes dikatakan memiliki objektifitas apabila dalam melaksanakan tes itu tidak ada faktor subjektif yang mempengaruhinya. Hal ini terutama terjadi pada sistem skoringnya.
Jika dihubungkan dengan reliabilitas, maka :
  • Objektifitas menekankan ketetapan ( consisitency ) pada sisitem skoring, dan
  • Reliabilitas menekankan ketetapan dalam hasil tes.
Ada dua faktor yang mempengaruhi subektifitas dari sebuah tes, yaitu :
  1. Betuk tes
Tes yang berbentuk uraian akan memberi banyak kemungkinan kepada si penilai untuk memberikan penilaian menurut caranya sendiri. Itulah sebabnya pada waktu ini ada kecenderungan penggunaan tes objektif diberbagai bidang. Untuk menghindari masuknya unsur subjektivitas dari penilai,maka sistem skoringnya dapat dilakukan dengan cara sebaiknya,antara lain dengan membuat pedoman skoring terlebih dahulu.
  1. Penilai
Subjektivitas dari penilai akan dapat masuk secara leluasa terutama dalam tes bentuk uraian. Faktor-faktor ysng mempengaruhi subjektivitas antara lain :
  1. Kesan penilai terhadap siswa,
  2. Tulisan,
  3. Bahasa,
  4. Waktu mengadakan penilaian,
  5. Kelelahan, dan sebagainya.
Untuk menghindari atau mengurangi masuknya unsur subjektivitas dalam pekerjaan penilaian, maka penilaian atau evaluasi harus dilaksanakan dengan mengingat pedoman. Pedoman yang dimaksud, terutama menyangkut masalah pengadministrasian, yaitu :
  • Evaluasi harus dilakukan secara kontinyu. Dengan evaluasi yang berkali-kali dilakukan maka guru akan memperoleh gambaran lebih jelas tentang keadaan siswa.
  • Evaluasi harus dilakukan secara komprehensif ( menyeluruh ), yaitu :
  • Mencakup keseluruhan materi.
  • Mencakup berbagai aspek berpikir ( ingatan, pemahaman, aplikasi, dan sebagainya ).
  • Melalui berbagai cara, yaitu cara tertulis, tes lisan, tes perbuatan dan sebagainya.
  1. Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes tersebut bersifat praktis, mudah pengadministrasiannya.
Tes praktis adalah tes yang :
  1. Mudah dilaksanakan.
Misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak.
  1. Mudah pemeriksaannya.
Artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban maupun pedoman skoringnya.
  1. Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan atau diwakili oleh orang lain.
  1. Ekonomis
Yang dimaksud ekonomis disini adalah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak membutuhkan ongkos atau biaya yang mahal, tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
  1. FUNGSI TES DAN LANGKAH PENYUSUNAN TES
  1. Fungsi Tes
Fungsi tes dapat ditinjau dari tiga hal :
  1. Fungsi untuk kelas, yang meliputi :
  • Mengadakan diagnosis terhadap kesulitan belajar siswa.
  • Mengevaluasi celah antara bakat dengan pencapaian.
  • Menaikkan prestasi.
  • Mengelompokkan siswa dalam kelas pada waktu metode kelompok.
  • Merencanakan kegiatan proses balajar mengajar untuk perseorangan.
  • Menentukan siswa mana yang memerlukan bimbingan khusus.
  • Menentukan tingkat pencapaian untuk setiap anak.
  1. Fungsi untuk bimbingan, yang meliputi :
  • Menetukan arah pembicaraan dengan orang tua tentang anak-anak mereka.
  • Membantu siswa dalam menetukan pilihan
  • Membantu siswa mencapai tujuan pendidikan dan jurusan.
  • Memberi kesempatan kepada pembimbing, guru dan orang tua dalam memahami kesulitan anak.
  1. Fungsi untuk administrasi, yang meliputi :
  • Memberi petunjuk dalam mengelompokkan siswa.
  • Penempatan siswa baru.
  • Membantu siswa memilih kelompok.
  • Menilai kurikulum.
  • Memperluas hubungan masyarakat ( public relation ).
  • Menyediakan informasi untuk badan-badan diluar sekolah.
  1. Langkah-langkah Penyusunan Tes
Urutan langkah yang dilakukan dalam penyusunan tes adalah :
  1. Menentukan tujuan mengadakan tes.
  2. Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
  3. Merumuskan tujuan instruksional khusus ( TIK ) dari tiap bagian bahan.
  4. Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku yang terkandung dalam TIK itu.
  5. Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek yang diukur beserta imabangan antara kedua hal tersebut.
  6. Menuliskan butir-butir soal yang didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.
  1. Komponen-komponen Tes
Komponen-komponen sebuah tes teridri atas :
  • Buku tes
Yaitu lembaran atau buku yang memuat butir-butir soal yang harus dikerjakan oleh siswa.
  • Lembar jawaban tes
Yaitu lembaran yang disediakan oleh penilaian bagi testee untuk mengerjakan tes.
  • Kunci jawaban tes
Yaitu berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki.
  • Pedoman penilaian
Pedoman penilaian atau pedoman skoring berisi keterangan perincian tenteng skor atau angka yang diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.
  1. TABEL SPESIFIKASI
  1. Fungsi Tabel spesifikasi
Tabel spesifikasi berupa tabel yang memuat sekaligus uraian isi tes dan tingkat kompetensi yang akan diungkap pada setiap bagian isi.
Tabel spesifikasi dapat disebut grid, kisi-kisi atau blue print. Wujudnya adalah sebuah tabel yang memuat tentang perperincian materi dan tingkah laku beserta imbangan atau proporsi yang dikehendaki oleh penilai.
Contoh :

TABEL SPESIFIKASI
Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan
( I )
Pemahaman
( P )
Aplikasi
( A )
Jumlah
Bagian 1




Bagian 2




Bagian n ( Terakhir )




Jumlah




Tabel spesifikasi mempunyai kolom dan baris, sehingga tampak adanya hubungan antara materi dengan aspek yang tergambar dalam TIK. Sebenarnya penyusunan tes bukan hanya mengingat hubungna antara dua hal tersebut tetapi empat hal yaitu hubungan antar materi, TIK, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi.
Sebagai contoh kaitan antara TIK, materi, kegiatan belajar mengajar dan evaluasi adalah sebagai berikut :
TIK : 4.2.2. siswa dapat menghitung percepatan benda.
Materi : 4.2.2. percepatan benda.
KBM : informasi dan tanya jawab percepatan.
Evaluasi : 4.2.2. sebuah benda yang mula-mula diam, massanya 5 kg dan menerima dua buah gaya yang berlawanan dan sama besar masing-masing 10 Newton. Maka percepatannya adalah.........
  1. 0 m/dt2
  2. 0,5 m/dt2
  3. 2 m/dt2
  4. 4 m/dt2
  1. Langkah Pembuatan Tabel Spesifikasi
Langkah-langkah dalam penyusunan tabel spesifikasi adalah sebagai berikut:
  1. Mendaftar pokok-pokok materi yang akan diteskan.
  2. Memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi.
  3. Merinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi.
Contoh :
Akan membuat tes untuk evaluasi, pokok-pokok materinya adalah :
  1. Pengertian evaluasi ( 2 )
  2. Fungsi evaluasi ( 3 )
  3. Macam-macam cara evaluasi ( 5 )
  4. Persyaratan evaluasi ( 4 )
Angka-angka yang tertera didalam kurung yang dituliskan dibelakang pokok materi, menunjukkan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi. Penentuan imbangan bobot materi dilakukan oleh penyusun soal berdasarkan atas luasnya materi atau kepentingannya untuk dites.
Dari contoh diatas, maka pokok-pokok materi dapat dipindahkan kedalam tabel dan mengubah indeks menjadi presentase. Kemudian membagi jumlah butir soal ( disini 50 buah ) menjadi 4 bagian berdasarkan imbangan bobot yang tertera sebagai presentase.
TABEL SPESIFIKASI UNTUK PENYUSUNAN SOAL EVALUASI
Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan

Pemahaman

Aplikasi

Jumlah
Pengertian evaluasi ( 14 % )



7
Fungsi evaluasi ( 21 % )



10
Macam-macam cara evaluasi ( 36 % )



18
Persyaratan evaluasi ( 29 % )



15
Jumlah



50 butir soal
Banyaknya butir soal dalam sebuah tes sangat ditentukan oleh :
  1. Waktu yang tersedia
  2. Bentuk soal
Sampai langkah ketiga, cara yang dilakukan sama untuk seluruh bidang studi.
Untuk langkah-langkah selanjutnya, terdapat langkah khusus tergantung dari homogenitas atau heterogenitas ( keragaman ) materi yang terkait.
  1. Untuk materi yang seragam
Yang dimaksud dengan seragam adalah bahwa ada antara pokok materi yang satu dengan pokok materi yang lain mempunyai kesamaan dalam imbangan aspek tingkah laku.
Misalnya 50% untuk ingatan, 30% untuk pemahaman dan 20% untuk aplikasi, maka angka presentase dapat dituliskan pada kolom dibawah kata-kata “Ingatan”, “Pemahaman” dan “Aplikasi”. Selanjutnya banyak butir soal tes untuk setiap sel ( kolom kecil ) diperoleh dengan cara menghitung persentase dari banyaknya soal bagi tiap pokok materi yang sudah tertulis dikolom paling kanan.
Contoh :
TABEL SPESIFIKASI UNTUK PENYUSUNAN SOAL EVALUASI
Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan
( 50% )
Pemahaman
( 30% )
Aplikasi
( 20% )
Jumlah
Pengertian evaluasi ( 14 % )
( A )
( B )
( C )
7
Fungsi evaluasi ( 21 % )
( D )
( E )
( F )
10
Macam-macam cara evaluasi ( 36 % )
( G )
( H )
( I )
18
Persyaratan evaluasi ( 29 % )
( J )
( K )
( L )
15
Jumlah



50 butir soal
Untuk mangisi atau menentukan banyaknya butir soal untuk tiap sel, dilakukan cara demikian :
Sel A : 50/100 x 7 soal = 3,4 ( 4 soal )
Sel B : 30/100 x 7 soal = 2,1 ( 2 soal )
Sel C : 20/100 x 7 soal = 1,4 ( 1soal )
Untuk mengisi sel-sel yang lain, dilakukan cara yang sama dengan cara yang digunakan untuk mengisi sel A, sel B dan sel C.
Disamping cara tadi, ada cara lain untuk menentukan jumlah butir soal untuk tiap-tiap pokok materi dengan mulai dari pengisian sel-sel kemudian baru diperileh jumlah soal tiap pokok materi.
Contoh :
TABEL SPESIFIKASI UNTUK PENYUSUNAN TES IPS
Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan
( 50% )
Pemahaman
( 30% )
Aplikasi
( 20% )
Jumlah
BAB 1 ( 40 % )
( A )
8
( B )
5
( C )
3
16
BAB 2 ( 30% )
( D )
6
( E )
( F )

BAB 3 ( 30 % )
( G )
( H )
( I )

Jumlah



40
Misalnya berdasarkan waktu yang telah ditentukan, diperkirakan akan disusun 40 butir soal. Maka tiap sel akan diperoleh imbangan jumlah sebagai berikut :
Sel A : 50/100 x 40/100 x 40 soal = 8 soal
Sel B : 30/100 x 40/100 x 40 soal = 4,8 soal ( 5 soal )
Sel C : 20/100 x 40/100 x 40 soal = 3,2 soal ( 3 soal )
Sel D : 50/100 x 30/100 x 40 soal = 6 soal
Demikian seterusnya setelah dihitung dengan cara yang sama, terdapatlah angka-angka yang menggambarkan banyaknya soal seperti tercantum pada tiap aspek. Setelah itu baru dijumlahkan kekanan maupun kebawah sehingga terdapat jumlah soal untuk setiap bagian atau pokok materi maupun setiap aspek tingkah laku.
  1. Untuk materi yang tidak seragam
Untuk membuat tabel spesifikasi pokok-pokok materi yang tidak seragam, tidak perlu mencantumkan angka persentase imbangan tingkah laku di kepala kolom. Pemberian imbangan dilakukan tiap pokok materi didasarkan atas banyaknya soal untuk pokok materi itu dan imbangna yang dikehendaki oleh penilai menurut sifat pokok materi yang bersangkutan.
Contoh :
TABEL SPESIFIKASI UNTUK PENYUSUNAN TES EVALUASI
Aspek yang diungkap
Pokok materi
Ingatan
( I )
Pemahaman
( P )
Aplikasi
( A )
Jumlah
BAB 1 ( 25% )
( A )
( B )
( C )
10
BAB 2 ( 40% )
( D )
( E )
( F)
16
BAB 3 ( 35% )
( G )
( H )
( I )
14
Jumlah ( 100% )



40
Misalnya :
BAB 1 : Mayoritas hafalan
BAB 2 : Mayoritas pemahaman
BAB 3 : Mayoriyas Aplikasi
Maka imbangan aspek tingkah laku, tidak dapat dituliskan pada kepala kolom, penentuan angka menunjukkan banyaknya butir soal pada tiap sel, ditentukan per Bab.
Misalnya :
Untuk BAB 1, ingatan 60%, pemahaman 30% dan aplikasi 10%, maka :
  • Sel A : 60/100 x 10 soal = 6 soal
  • Sel B : 30/100 x 10 soal = 3 soal
  • Sel C : 10/100 x 10 soal = 1 soal
Untuk BAB 2, ingatan 20%, pemahaman 50% dan aplikasi 30%, maka :
  • Sel D : 20/100 x 16 soal = 3 soal
  • Sel E : 50/100 x 16 soal = 8 soal
  • Sel F : 30/100 x 16 soal = 5 soal
Untuk BAB 3, ingatan 20%, pemahaman 20% dan aplikasi 60%, maka :
  • Sel G : 20/100 x 14 soal = 3 soal
  • Sel H : 20/100 x 14 soal = 3 soal
  • Sel F : 60/100 x 14 soal = 6 soal
  1. Tindak Lanjut Setelah Penyusunan Tabel
Ada dua langkah lagi sebagai tindak lanjut sesudah menyusun tabel spesifikasi untuk memperoleh seperangkat tes, yaitu :
  1. Menentukan Bentuk Soal
Ada dua langkah yang harus diperhatiakan dalam menentukan bentuk soal, yaitu :
  1. Waktu yang tersedia
Bahwa soal bentuk betul-salah membutuhkan waktu yang lebih singkat dari pada isian atau pilihan ganda. Yang perlu mendapat perhatian adalah soal bentuk uraian, soal bentuk ini paling banyak memakan waktu walaupun masih perlu diperinci lagi bahwa soal yang menghendaki siswa untuk menguraikan tentu sa lebih banyak memakan waktu dibandingkan dengan pertanyaan “mengapa”.
  1. Sifat materi yang dites
Sifat materi sangat menentukan bentuk soal tes pula. Adakalanya sebuah pokok materi tidak dapat diukur dengan soal bentuk tertentu.
  1. Menuliskan Soal-soal Tes
Langkah-langkah terakhir dari penyusunan tes adalah menuliskan soal-soal tes ( item, writing ). Hal-hal yang harus diperhatiakan dalam menuliskan soal-soal tes adalah :
  1. Bahasa harus sederhana dan mudah dipahami.
  2. Suatu saol tidak boleh mengnadung penafsiran ganda ganda atau membingungkan.
  3. Cara memenggal kalimat atau meletakkan / menata kata-kata perlu diperhatikan agar tidak ditafsirkan salah.
  4. Petunjuk mangerjakan.
BAB III
PENUTUP
Dari pembahasan makalah ini dapat disimpulkan bahwa :
  1. Tes
Adalah alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.
  1. Persyaratan tes adalah :
  1. Menynagkut mutu tes
  2. Menyangkut pengadministrasian dalam pelaksanaan
  1. Ciri-ciri tes yang baik adalah :
  1. Validitas
  2. Relibilitas
  3. Objektivitas
  4. Praktikabilitas
  5. Ekonomis
  1. Fungsi tes dapat ditinjau dari tiga hal, yaitu :
  1. Fungsi untuk kelas
  2. Fungsi untuk bimbingan
  3. Fungsi untuk administrasi
  1. Langkah-langkah penyusunan tes, yaitu:
a. Menentukan tujuan mengadakan tes.
b. Mengadakan pembatasan terhadap bahan yang akan diteskan.
c. Merumuskan tujuan instruksional khusus ( TIK ) dari tiap bagian bahan.
d. Menderetkan semua TIK dalam tabel persiapan yang memuat pula aspek tingkah laku yang terkandung dalam TIK itu.
e. Menyusun tabel spesifikasi yang memuat pokok materi, aspek yang diukur beserta imabangan antara kedua hal tersebut.
f. Menuliskan butir-butir soal yang didasarkan atas TIK-TIK yang sudah dituliskan pada tabel TIK dan aspek tingkah laku yang dicakup.
  1. Komponen-komponen tes adalah :
  1. Lembar jawaban tes
  2. Kunci jawaban tes
  3. Pedoman penilaian
  1. Fungsi tabel spesifikasi adalah untuk mempermudah guru dalam menyusun tes yang baik.
  2. Langkah-langkah penyusunan tabel spesifikasi, yaitu :
a. Mendaftar pokok-pokok materi yang akan diteskan.
b. Memberikan imbangan bobot untuk masing-masing pokok materi.
c. Merinci banyaknya butir soal untuk tiap-tiap pokok materi.
  1. Tindak lanjut sesudah penyusunan tabel spesifikasi adalah :
  1. Menentukan bentuk soal
  2. Menuliskan soal-soal tes

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar