Kamis, 12 April 2012

TUGAS INDIVIDU MORFOLOGI DAN MACAM – MACAM PROSES MORFOLOGI


TUGAS INDIVIDU
MORFOLOGI DAN MACAM – MACAM PROSES MORFOLOGI

Di Susun Guna Untuk Memenuhi Tugas :
Mata Kuliah : Bahasa Indonesia
Dosen Pengampu : Moh. Fauzan, M. Pd





Di susun oleh :
Naila Rahmatillah
202109322


Kelas H
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
( STAIN ) PEKALONGAN
2012

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang maslah
Pembicaraan mengenal morfologi bahasa indonesia sebenarnya telah banyak dilakukan orang, baik dalam sebuah buku khusus, maupun sebagai sebagian dari sebuah buku yang lebih luas, yaitu buku tata bahasa, baik yang bersifat preskriptif maupun yang katanya bersifat deskriptif.
Permasalahan – permasalahan lain yang sering tibul biasanya dalam hal ketatabahasaan terkait dengan penggunaan afiks, didalam buku – buku bahasa indonesia yang ada baik yang tradisional, yang struktural dan yang lainnya biasanya hanya mendiskripsikan keteraturan – keteraturan ketatabahasan yang ada, dan tidak menjelakan mengapa keteraturan – keteraturan itu terjadi, oleh karena itu hasil analisis yang digunakan belum dapat digunakan untuk membuat suatu prediksi ( karangan ilmiah ), padahal salah satu ilmu adalah membuat suatu prediksi.
Datang dari permasalahan – permasalahan tersebut penulis ingin menguraikan permasalahan – permasalahan yang terkait dengan materi tentang morfologi. Yang mana dalam makalah ini akan penulis jelaskan mengenai hakikat morfologi dan macam – macam proses morfologi.

  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut perlu merumuskan masalah sebagai pijakan untuk terfokusnya kajian makalah ini.
Adapun rumusan masalahnya sebagai berikut :
  1. Bagaimana hakikat morfologi ?
  2. Apa saja macam – macam proses morfologi ?

  1. Metode pemecahan masalah
Metode pemecahan masalah yang dilakukan melalui study literatur / metode kajian pustaka, yaitu dengan menggunakan beberapa refrensi buku atau dari refrensi lainnya yang merujuk pada permasalahan yang dibahas.
Langkah – langkah pemecahan masalahnya dimulai dengan menentukan masalah yang akan dibahas dengan melakukan perumusan masalah, melakukan langkah – langkah pengkajian masalah, penentuan tujuan dan sasaran, perumusan jawaban permasalahan dari berbagai sumber.
  1. Sistematika penulisan makalah
Makalah ini kami ke dalam 3 bagian, yaitu :
  • Bab I, bagian pendahuluan yang terdiri dari : latar belakang masalah, perumusan masalah, metode pemecahan masalah dan sistematika penulisan penulisan masalah.
  • Bab II, Pembahasan
  • Bab III, Bagian penutupan yang terdiri dari kesimpulan.















BAB II
PEMBAHASAN

  1. Hakikat Morfologi
Secara etimologi kata morfologi berasal dari kata morf yang berarti “ bentuk “ dan kata logi yang berarti “ ilmu “. Jadi secara harfiah kata morfologi berarti “ ilmu “ mengenai bentuk”’
Didalam kajian linguistik, morfologi berarti “ ilmu mengenai bentuk dan pembentukan kata” sedangkan didalam kajian biologi morfologi berarti berarti “ ilmu mengenai bentuk – bentuk sel – sel tumbuhan atau jasad – jasad hidup.1

  1. Macam – Macam Proses Morfologi
Proses morfologi pada dasarnya adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui pembubuhan afiks ( dalam proses afiksasi ), pengulangan ( reduplikasi ), penggabungan / pemajemukan ( dalam proses komposisi / kombinasi ), pemendekan ( dalam proses abreviasi ). Dan pengubahan status / pengubahan afiks yang membatasi makna gramatikalnya ( dalam proses konversi / derivasi ), kata penghubung intra kalimat dan kata penghubung antar kalimat.
Dalam proses afiksasi sebuah afiks diimbuhkan pada bentuk dasar sehingga hasilnya menjadi sebuah kata. Berkenaan dengan jenis afiksnya, biasanya proses afiksasi itu dibedakan atas prefiksasi, yaitu proses pembubuhan prefiks ( awalan ), konfiksasi yaitu proses pembubuhan konfiks ( apitan ), infiksasi yaitu proses pembubuhan infiks ( sisipan ), dan sufiksasi yaitu proses pembubuhan sufiks ( akhiran ).
Proses morfologi melibatkan komponen :
  1. Bentuk dasar
Yaitu bentuk yang kepadanya dilakukan proses morfologi. Bentuk dasar itu dapat berupa akar seperti baca, pahat, dan juang pada kata membaca, memahat, dan berjuang.
Dalam proses reduplikasi bentuk dasar dapat berupa akar, seperti akar rumah pada kata rumah – rumah, dan akar marah pada kata marah – marah.
Dalam proses komposisi dapat berupa akar sate pada kata sate ayam, sate padang, dan sate lontong ; dapat berupa dua buah akar seperti akar kampung dan akar halaman pada kata kampung halaman, atau akar tua dan akar muda pada kata tua muda.
  1. Alat pembentukan ( afiksasi, reduplikasi, komposisi / kombinasi, abreviasi, dan konversi / derivasi )
Komponen kedua dalam proses morfologi adalah pembentuk kata. Sejauh ini alat pembentuk dalam proses morfologi adalah :
  1. Afiks dalam proses afiksasi
Proses prefiksasi dilakukan oleh prefiks ber-, me-, di-, ter-, ke, dan se-; infiksasi dilakukan oleh infiks -el-, -em-, dan -er-; sufiksasi, dilakukan oleh sufiks –an, -kan, dan –i; sedangkan konfiksasi dilakukan oleh konfiks pe-an, per-an, ke-an, dan ber-an, di-an.
  1. Pengulangan dalam proses reduplikasi
Reduplikasi dapat terjadi pada bentuk dasar yang berupa akar, berupa bentuk ber afiks dan berupa bentuk komposisi. Hasil dari proses reduplikasi disebut dengan istilah kata ulang. Secara umum dikenal adanya 3 macam pengulangan, yaitu pengulangan secara utuh, pengulangan dengan pengubahan bunyi vokal maupun konsonan, dan pengulangan sebagian.

  1. Penggabungan dalam proses komposisi / kombinasi.
Penggabungan ini merupakan alat yang banyak digunakan dalam pembentukan kata karena banyaknya konsep yang belum ada wadahnya dalam bentuk sebuah kata.
Contoh : segitiga, saputangan, matahari, tepuk tangan, tanggung jawab, air mata.
  1. Pendekan atau penyingkatan dalam proses abreviasi.
Proses pembentukan yang keempat adalah abreviasi khusus yang digunakan dalam proses akronimisasi. Disebut abreviasi khusus karena semua abreviasi menghasilkan akronim. Abreviasi dari bentuk Sekolah Menengah Atas menjadi SMA adalah bukan akronim, tetapi hasil dari abreviasi dari Jakarta Bogor Ciawi menjadi Jagorawi adalah akronim.
  1. Pengubahan status dalam proses konversi/derivasi.
Koversi atau derivasi lazim juga disebut derivasi zero,transmutasi atau transposisi adalah proses pembentukan kata dari sebuah dasar berkategori tertentu menjadi kata berkategori lain,tanpa mengubah bentuk fisik dari dasar itu.Misalnya, bentuk gunting yang berstatus nomina dalam kalimat “ gunting ini terbuat dari baja “ dapat diubah statusnya menjadi bentuk gunting yang berstatus verba, seperti kalimat “ gunting dulu baik – baik, nanti baru dilem”.2

  1. Kata Penghubung Intrakalimat
adalah kata penghubung intrakalimat, yaitu kata penghubung yang terletak didalam kalimat, baik dalam kalimat tunggal maupun dalam kalimat majemuk. Ada kata penghubung intrakalimat yang harus didahului tanda dan ada pula yang tidak.
  1. Kata penghubung intrakalimat yang harus didahului tanda koma, antara lain sebagai berikut :3
  1. -, tetapi –
  2. -, sedangkan –
  3. -, melainkan –
  4. -, hanya –
  5. -, seperti –
  6. -, antara lain –
  7. -, malah – atau -, malahan –
  8. -, apalagi –
  9. -, kecuali –
  10. -, yakni –
  11. -, yaitu -
  12. -, bahkan –
Misalnya ; hidup tanpa tujuan yang pasti tidak akan menghasilkan apa – apa, kecuali kekecewaan.4
  1. Kata penghubung intrakalimat yang tidak boleh didahului tanda koma, antara lain sebagai berikut :5
  1. Jika
  2. Apabila
  3. Agar
  4. Supaya
  5. Meskipun
  6. Walaupun
  7. Bagaimanapun
  8. Bahwa
  9. Sungguhpun
  10. Sebab
  11. Karena
  12. Sehingga
  13. Sesudah
  14. Setelah
  15. Sebelum
Misalnya : saya betul – betul terpesona kepadanya sehingga saya terus menatapnya.6
Kata penghubung seperti dan, serta, atau, tidak boleh didahului tanda koma jika rincian dalam kalimat hanya dua unsure, tetapi jika rincian dalam kalimat lebih dari dua unsure, kata penghubung itu harus didahului tanda koma. Contoh :
  1. Tas dan buku itu saya letakkan diatas meja. ( dua unsur )
  2. Tas, buku, dan pensil itu saya letakkan diatas meja. ( tiga unsure )
  1. Kata Penghubung Antarkalimat
Adalah kata penghubung antarkalimat, yaitu kata penghubung yang terletak diawal kalimat.
Ungkapan ini harus selalu diikuti tanda koma, seperti :7
  1. Namun,-
  2. Jadi,-
  3. Pertama,-
  4. Selanjutnya,-
  5. Akan tetapi,-
  6. Walau demikian,-
  7. Meskipun demikian,-
  8. Oleh karena itu,-
  9. Sehubungan dengan itu,-
  10. Lagi pula,-
  11. Selain itu,-
  12. Sebaliknya,-
  13. Sebenarnya,-
  14. Sebagai kesimpulan,-


  1. Makna Gramatikal
Makna gramatikal mempunyai hubungan erat dengan komponen makna yang dimiliki oleh bentuk dasar yang terlibat dalam proses pembentukan kata.
Setiap makna gramatikal dari suatu proses morfologi akan menampakkan makna atau bentuk dasarnya.
Contoh:bersdasi makna gramatikalnya memakai dasi,berkuda makna gramatikalnya mengendarai kuda, dan bentuk berdiskusi makna gramatikalnya adalah melakukan diskusi.

  1. Hasil proses pembentukan
Proses morfologi atau proses pembentukan kata mempunyai dua hasil yaitu bentuk dan makna gramatikal.Bentuk dan makna gramatikal merupakan dua hal yang berkaitan erat, bentuk merupakan wujud fisiknya dan makna gramatikal merupakan isi dari wujud fisik atau bentuk itu.
Wujud fisik dari hasil proses afiksasi adalah kata berafiks, disebut juga kata berimbuhan, kata turunan atau kata terbitan. Wujud fisik dari proses reduplikasi adalah kata ulang, atau disebut juga bentuk ulang. Wujud fisik dari hasil proses komposisi adalah kata gebung, disebut juga gabungan kata, kelompok kata atau kata mejemuk.8



BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
Morfologi berarti ilmu mengenai bentuk – bentuk dan pembentukan kata – kata.
Macam – macam proses morfologi adalah proses pembentukan kata dari sebuah bentuk dasar melalui :
  1. Pembubuhan afiks ( dalam proses afiksasi )
  2. Penggunaan / pemajemukan ( dalam proses komposisi / kombinasi )
  3. Pengulangan ( reduplikasi )
  4. Pemendekan ( dalam proses abreviasi )
  5. Pengubahan status / pengubahan afiks yang membatasi makna gramatikalnya ( dalam proses konversi / dirivasi )
  6. Kata penghubung intrakalimat
  7. Kata penghubung antarkalimat







DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia ( Pendekatan Proses ). Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Karyanto, Umum Budi. 2009. Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta : Gama Media Yogyakarta.
Tukan, Paulus. 2006. Mahir Berbahasa Indonesia. Jakarta : PT. Ghalia Indonesia.














DATA DIRI

NAMA : NAILA RAHMATILLAH
NIM : 202109322
TEMPAT TANGGAL LAHIR : PEKALONGAN, 14 FEBRUARI 1991
ALAMAT : JL. DHARMA BHAKTI GG. 07 NO. 107 MEDONO PEKALONGAN
RIWAYAT HIDUP : MSI 08 MEDONO
SMP SALAFIYAH KAUMAN PEKALONGAN
SMK N 2 PEKALONGAN
HOBI : TRAVELING
ALAMAT FACEBOOK :RAHMATILLAH_NAILA@YAHOO.COM
NO. TELEPHON : 085742929831


1 Abdul Chaer , Morfologi Bahasa Indonesia ( pendekatan proses ), ( Jakarta: PT. RINEKA CIPTA. 2008 ). Hal. 3

2 Ibid. Hal. 27 – 28.

3 Umum Budi Karyanto, M. Hum, Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi, ( Yogyakarta : Gama media Yogyakarta. 2009 ) Hal. 48 – 49.

4 Paulus Tukan, S. Pd, Mahir Berbahasa Indonesia, ( Jakarta ; PT Ghalia Indonesia, 2006 ) Hal. 91

5 Umum Budi Karyanto, . Hum, Loc cit,

6 Paulus Tukan, Loc cit.

7 Umum Budi Karyanto, M. Hum, Op . cit, Hal. 50

8 Abdul Chaer , Op. Cit , hal.28-29

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar